RENJANA (Short Movie)
By : 5LY
Bimbang.. Sebuah kata yang mendefinisikan perasaanku saat ini
Bimbang antara bertahan atau pergi, mana yang harus kupilih.. Tetap mencintai dalam diam, atau pergi dengan rasa sakit?
Aku tidak menyalahkannya atas perasaanku, tidak sekalipun..
Dia baik, dia yang membuat sanubari yang pernah terluka kembali tertawa
Dia yang pernah menjadi pelangi dihati yang kelam, terselimuti awan hitam
Dia orang yang tetap disampingku, saat kuingin tuangkan keluh kesahku
Aku tidak berharap dia merasakan hal yang sama seperti ku..
Bisa berada selalu disampinya saja, sudah membuatku bahagia
Sampai pada akhirnya, tuhan memberikan jarak pada kita.
Hingga saat itu, waktu dimana menjadi hari perpisahan kami tiba. Setengah jam berlalu kami masih saja saling membisu, bertukar diam, menatap kosong, bisingnya kota, sambil mengingat semua yang telah berlalu disebuah tempat favorit kami, sebuah rooftop mall dikota kami tinggal. Sampai aku, akhirnya memberanikan diri memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan.
Ica : "apa kamu yakin sama keputusan kamu itu?"
Daffa : "keputusanku sudah bulat.. Aku akan mengambil beasiswa kuliah diluar negeri itu."
Ica : "aku senang, kamu bisa masuk universitas favorit kamu."
Daffa : "yah, aku memang senang, tapi juga sedih"
Ica : "kenapa?"
Daffa : "karena tidak ada orang yang bisa menemaniku melihat senja lagi."
Waktu begitu cepat ya, perasaan baru kemarin kita duduk dibangku SMA, sekarang, udah lulus aja, ingin rasanya aku mengulang masa putih abu-abu ku bersamanya, ucapku dalam hati.
Daffa : "jaga diri kamu baik-baik, cepat atau lambat aku akan pulang. Satu hal yang pasti, jangan pernah berubah. Tetaplah jadi orang yang aku kenal." tatapnya serius
Air mataku menetes tanpa bicara, ia pun mengusap air mataku yang mengalir dipipi dengan tatap serius, sambil mengucapkan "Aku pamit". Lalu ia pergi meninggalkan tempat ini, tak tau lagi harus apa diri ini, hanya bisa memanggil namanya untuk terakhir kalinya, dan ia hanya membalas dengan tatap dingin.
Kembali kutatap kosong kota ini dari tempat favorit kami masih dengan rasa yang sama. Dan jawaban dari rasa bimbangku selama ini adalah bertahan. Aku tidak berharap apa-apa, aku menyukainya sangat dan aku akan menunggunya sampai dia kembali nanti. Tentang perasaanku itu urusanku, tak apa, biar aku sendiri yang merasakannya.
By : 5LY
Bimbang.. Sebuah kata yang mendefinisikan perasaanku saat ini
Bimbang antara bertahan atau pergi, mana yang harus kupilih.. Tetap mencintai dalam diam, atau pergi dengan rasa sakit?
Aku tidak menyalahkannya atas perasaanku, tidak sekalipun..
Dia baik, dia yang membuat sanubari yang pernah terluka kembali tertawa
Dia yang pernah menjadi pelangi dihati yang kelam, terselimuti awan hitam
Dia orang yang tetap disampingku, saat kuingin tuangkan keluh kesahku
Aku tidak berharap dia merasakan hal yang sama seperti ku..
Bisa berada selalu disampinya saja, sudah membuatku bahagia
Sampai pada akhirnya, tuhan memberikan jarak pada kita.
Hingga saat itu, waktu dimana menjadi hari perpisahan kami tiba. Setengah jam berlalu kami masih saja saling membisu, bertukar diam, menatap kosong, bisingnya kota, sambil mengingat semua yang telah berlalu disebuah tempat favorit kami, sebuah rooftop mall dikota kami tinggal. Sampai aku, akhirnya memberanikan diri memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan.
Ica : "apa kamu yakin sama keputusan kamu itu?"
Daffa : "keputusanku sudah bulat.. Aku akan mengambil beasiswa kuliah diluar negeri itu."
Ica : "aku senang, kamu bisa masuk universitas favorit kamu."
Daffa : "yah, aku memang senang, tapi juga sedih"
Ica : "kenapa?"
Daffa : "karena tidak ada orang yang bisa menemaniku melihat senja lagi."
Waktu begitu cepat ya, perasaan baru kemarin kita duduk dibangku SMA, sekarang, udah lulus aja, ingin rasanya aku mengulang masa putih abu-abu ku bersamanya, ucapku dalam hati.
Daffa : "jaga diri kamu baik-baik, cepat atau lambat aku akan pulang. Satu hal yang pasti, jangan pernah berubah. Tetaplah jadi orang yang aku kenal." tatapnya serius
Air mataku menetes tanpa bicara, ia pun mengusap air mataku yang mengalir dipipi dengan tatap serius, sambil mengucapkan "Aku pamit". Lalu ia pergi meninggalkan tempat ini, tak tau lagi harus apa diri ini, hanya bisa memanggil namanya untuk terakhir kalinya, dan ia hanya membalas dengan tatap dingin.
Kembali kutatap kosong kota ini dari tempat favorit kami masih dengan rasa yang sama. Dan jawaban dari rasa bimbangku selama ini adalah bertahan. Aku tidak berharap apa-apa, aku menyukainya sangat dan aku akan menunggunya sampai dia kembali nanti. Tentang perasaanku itu urusanku, tak apa, biar aku sendiri yang merasakannya.

Komentar
Posting Komentar