Zaman
dulu Kudus ini lebih dikenal dengan sebutan Al-Quds yang akhirnya menjadi Kudus Sejarah kretek dimulai dari kota ini,
saat Haji Djamhari yang merupakan penduduk asli Kudus merasa sakit di dadanya
dan bereksperimen merajang cengkeh dan tembakau lantas melintingnya menjadi
rokok.
Sejarah kretek
dimulai dari kota ini, saat Haji Djamhari yang merupakan penduduk asli Kudus
merasa sakit di dadanya dan bereksperimen merajang cengkeh dan tembakau lantas
melintingnya menjadi rokok. Suara “kretek kretek” dari cengkeh yang terbakar
pun kemudian menjadi nama temuannya itu, sisanya tinggal sejarah. Tak hanya
dinobatkan sebagai kota kretek, Kudus pun dikenal sebagai kota santri karena
kental akan nuansa Islam. Pada abad pertengahan, kota ini menjadi salah satu
pusat perkembangan agama Islam di pulau Jawa. Faktanya, makam dan peninggalan
Wali Songo yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria berada di kota ini sehingga
menjadikan Kudus sebagai salah satu kota tujuan wisata religi.
Zaman dulu Kudus
ini lebih dikenal dengan sebutan Al-Quds yang akhirnya menjadi Kudus. Sebutan
ini pada masa Islam. Berarti peran penting dari Sunan Kudus. Jadi Sunan Kudus
itu merupakan keturunan dari Timur Tengah, Palestina. Bapaknya (Sunan Kudus)
pejabat di Kerajaan Demak, bapaknya meninggal kemudian Sunan Kudus ditarik
menjadi pejabat menjadi panglima perang di Kerajaan Demak dan berhasil membunuh
Syah Siti Jenar.
Sejarah Kota
Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan
Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar
“Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jama’ah Haji. Beliau
pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Ketika itu disana
sedang berjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Berkat usaha
Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas. Atas jasa-jasanya, maka Amir
di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang
menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada
batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di
atas Mihrab Masjid Menara Kudus.
Komentar
Posting Komentar