Kehadiran Tenun Gaya dalam dunia fesyen maupun industrial
tenun dan batik menjadi pelopor sekaligus acuan para desainer dan pengusaha
untuk membuat lebih banyak lagi hasil karya dari kain tenun, dan memotivasi masyarakat
Indonesia untuk lebih mencintai produk dalam negeri terutama pada kain dan
batik.
Wignyo
Rahadi pemilik Tenun Gaya yang memulai ketertarikannya pada kain tenun dan
batik sejak tahun 1955 saat Ia bekerja di
industri benang sutera sebagai manajer pemasaran. Ketertarikan itu bermula
karena sering berhubungan dengan perajin tenun dan batik untuk
menyosialisasikan penggunaan benang sutera. Sejak saat itu Wignyo memperdalam pengetahuan dan teknik alat tenun bukan
mesin (ATBM). Selama berkarya, Ia konsisten mengembangkan desain dan teknik
kerajinan tenun ATBM, hingga dari kekonsistenannya itulah akhirnya pada tahun
2000 Wignyo mendirikan usaha tenun dengan nama Tenun Gaya di Sukabumi, Jawa
Barat.
Wignyo
memulai jelajahnya dengan mengeksplor tenun Terawang, yang kemudian dikenal
dengan tenun Baron. Hal ini membuat Tenun Gaya menjadi produsen pertama yang
menjual kain tenun meteran di Indonesia. Inovasi yang datang tanpa henti menciptakan beragam motif tenun ATBM dengan ciri
khas etnik kontemporer, serta Kecintaannya terhadap wastra Nusantara yang
membuat Wignyo dengan konsisten mengangkat inspirasi dari motif kain
tradisional dengan sentuhan modern agar dapat diterima oleh lintas generasi.
Selain
menjadi produsen pertama yang menjual kain tenun meteran di Indonesia, Tenun
Gaya juga menjadi pelopor kain tenun ATBM yang sudah
bermotif lebih menarik. Jika sebelumnya UMKM membuat kain tenun ATBM hanya
berupa kain bermotif sederhana warna putih dan dijual pada UMKM batik untuk
diproses. Kemudian dari sana biasanya baru dipasarkan berupa kain batik. Tenun
Gaya sudah membuat motif lebih menarik dan berwarna, dan juga dapat dijual
langsung pada pembeli, baik berupa kain tenun meteran maupun busana siap
pakai.
Tenun Gaya juga berperan dalam pengembangan tenun tradisional di
beberapa sentra tenun, seperti kain ulos, songket, serta
tenun NTT dan NTB. Dalam prosesnya, Tenun Gaya tanpa meninggalkan ciri
khas kearifan lokal wilayah masing-masing.
Seperti yang dikutip dari liputan6.com, Wignyo mengatakan "Motif
dari kearifan lokal itulah yang jadi inspirasi Tenun Gaya agar kain dengan motif
tertentu yang biasanya digunakan masyarakat tertentu berubah jadi (bahan yang)
disukai dan digunakan seluruh masyarakat Indonesia sebagai fesyen
keseharian, bukan busana keperluan adat saja,"
Komitmen
Wignyo dalam upaya membina para perajin tenun
meraih penghargaan berupa UPAKARTI kategori Jasa Pengabdian pada bidang usaha
pengembangan industri tenun pada 2014. Pengembangan industri tenun yang
dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat juga mendapat penghargaan One Village One
Product (OVOP) bintang empat dari Kementerian Perindustrian di tahun 2015.
Selain apresiasi dalam negeri, Wignyo juga meraih apresiasi International yaitu
menjadi pemenang UNESCO Award of Excellence for Handicrafts in South-East Asia
and South Asia 2012 untuk produk selendang pengembangan motif Rang-rang
asal Nusa Penida, Bali.
Untuk
ke depannya, Wignyo bersama Tenun Gaya
bertekad akan lebih serius lagi dalam pengembangan kain tradisional dan ingin
menjadikan divisi baru dalam pengolahan maupun pemasarannya
Komentar
Posting Komentar