Pagelaran Royo-Royo untuk penggalangan dana bagi keberlangsungan program yang memberikan ruang belajar, ruang berbagi pengetahuan, keterampilan, dan juga membangun jaringan bagi pelaku seni.
Sudah jarang ditemui pagelaran
wayang di kota-kota besar, salah satunya Jakarta. Hingga pada bulan Oktober
2019 Yayasan Kelola bersama Dia.Lo.Gue mengadakan sebuah program penggalangan
dana untuk keberlangsungan program yang memberikan ruang belajar, ruang berbagi
pengetahuan, keterampilan, dan juga membangun jaringan bagi pelaku seni, program
tersebut bernama Royo-Royo #1 : Wayang Bocor.
Untuk edisi perdana Royo-Royo
dimulai dengan Wayang Bocor Eko Nugroho yang meraih Hibah Seni tahun 2008.
Sejak meraih Hibah Seni, Wayang Bocor terus konsisten berkarya baik di level
internasional maupun di kampung-kampung. Semua kegiatan dalam Festival
Royo-Royo bersifat edukatif yang ditujukkan untuk komunitas seni kreatif dan
masyarakat luas. Seluruh hasil penjualan akan dimanfaatkan untuk mendukung
pemajuan seni budaya Indonesia.
Hubungan Hibah Seni dan seniman
seni pertunjukan selalu terjadi dua arah, Hibah Seni mempengaruhi ekosistem
seni pertunjukan Indonesia. Hibah Seni berkembang mulai dari kategori Karya
Inovatif yang ditujukan bagi pendanaan produksi karya baru, Pentas keliling
untuk mendanai pementasan karya-karya terbaik ke penonton baru, Keberlanjutan
Seni Tradisi untuk membantu kegiatan-kegiatan konservasi, preservasi, dan
revitalisasi, dan yang terakhir Kolaborasi Inovatif untuk mendorong terjadinya
karya lintas disiplin yang digagas oleh lebih dari satu seniman.
Dalam pagelaran ini tidak hanya pertunjukan
permainan wayang, tetapi juga banyak kegiatan lainnya seperti pameran arsip pertunjukan
“Bungkusan Hati dalam Kulkas” oleh Studio Eko Nugroho, pameran arsip seni pertunjukan
Hibah Seni Kelola, workshop
Kreativitas bersama Eko Nugroho Art Class, dan workshop Manajemen bersama ARS Management.
Komentar
Posting Komentar